Vani (2)

Mat:

Hari ini dia ada disini lagi dengan baju biru dan jaket hijaunya. Sesekali dia senyum agak pelit sambil melirikku. Beberapa saat kami sering tatap-tatapan, terlihat perasaan sayang dimata kami masing-masing. 

Sempat diantara senyuman, canda, dan tawa kami terdapat sebuah kekesalan diwajahnya. Tetapi tidak berlangsung lama, hatinya kembali lagi. Mungkin, sempat pergi hanya untuk mencari angin segar krn perasaannya sudah penuh dan sesak karena hadirku malam ini. 

Untuk pertama kalinya dia meneteskan air mata didepanku. Hanya satu bulir air mata yang jatuh, itu yang ku hitung. Aku sangat yakin hitunganku tidak salah, karena aku betul-betul menatap wajahnya. Menatap wajah orang yang aku sayangi. I love you van..

Van:

I love you too, Mateus.

dia (pembuka)

Akhir-akhir ini semua tidak berjalan lancar. Aku tidak dapat memahami apa yang kami pikirkan, mungkin ini salah satu bentuk kegeoisanku. Keegoisan yang membuat sebuah bunga menjadi layu.

Hm.., kemudian aku berpikir disuatu waktu dalam proses pemikiran panjangku. Proses pemikiran panjang yang sering membuat aku tidur larut dan pemikiran yang sering tiba-tiba datang dalam keseharianku. Bukankah Tuhan yang memberikan masa depan dan sudah merencanakan-Nya. Mungkin, ini karena aku terlalu mengandalkan kekuatanku dan membuat setiap rencana dengan isi kepalaku. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku harus berhenti dan membiarkan Tuhan bekerja.

Sebuah relasi antara seorang pria-wanita adalah perjuangan dua insan yang sama-sama saling meyayangi dan mengasihi. Keduanya harus saling berkorban atau pada awalnya harus dimulai dari pengorbanan seseorang dan pada akhirnya keduanya bersama-sama untuk saling berkorban.

Proses pendekatan adalah sebuah proses yang sulit karena setiap orang akan berusaha mengenal orang yang didekatinya secara baik. Akan tetapi, proses pendekatan yang baik terkadang sulit terjadi ketika seseorang yang didekati tidak menyambut dengan baik. Belum lagi ketika dalam proses pendekatan, cara pendekatan yang dilakukan tidak sepenuhnya baik dan terdapat kesalahan.

Dalam sebuah ujian, apakah seorang mahasiswa dapat mendapatkan nilai yang baik ketika  sebelumnya dia tidak belajar? Pada umumnya tidak.
Jika kamu atau aku pada saat itu tidak belajar, kemudian setelah ujian kita mendapat nilai yang buruk, bagaimana sikap kita? Jawaban yang muncul akan ada dua pilihan. Seorang itu dapat menerima hasil ujian atau seseorang itu tidak dapat menerima hasil ujian.

Kecocokan, apakah seorang yang tidak belajar itu cocok dengan hasil yang jelek atau harusnya dia mendapat hasil yang baik? Harusnya jawabannya adalah dia cocok mendapatkan hasil yang jelek. Haruskah dia mengeluh dengan hasil jelek yang diterimanya atau menerima apa adanya? Jawaban bisa keduanya.

Terkadang kita salah dalam mendefinisikan arti sebuah kecocokan. Dalam contoh kasus, seorang wanita yang memiliki sifat yang egois dan keras kepala, apakah cocok dengan seorang pria yang egois dan kepala atau seharusnya dia cocok kepada seorang pria yang tidak egois dan tidak keras kepala? BISA KEDUANYA

Dalam percakapan simpelnya,

W1: Aku seorang yang keras kepala, cocoknya aku mendapat cowok yang tidak keras kepala.

W2: Aku seorang yang keras kepala, cocoknya aku mendapat cowok yang keras kepala.

Wanita pertama berpikir sebuah hubungan akhi reaksi yang berharap ketika dia melakukan aksi maka pria tersebut dapat menerima aksinya dalam sebuah reaksi.
Wanita kedua berpikir dan merasa sangatlah pantas apabila dia mendapatkan pria seperti itu karena dia juga seperti itu.

Maka kembali lagi, jawabannya adalah bisa keduanya. Tidak ada yang salah dengan sebuah pilihan. Namun, bagaimana ketika ada seorang pria yang mengatakan kesungguhan hatinya kepada seorang wanita namun terbentur oleh karena mereka memiliki sifat yang sama (tidak baik)? Hal yang harus dilakukan adalah saling menerima (keduanya), seperti seorang mahasiswa yang tidak belajar dan menerima apa adanya ketika mendapat nilai yang jelek.

Seorang ayah adalah cinta pertama dari anak perempuannya dan seorang ibu adalah cinta pertama dari anak laki-lakinya. Seorang pria nantinya akan menggantikan peran seorang ayah dalam hidup seorang wanita sehingga pria tersebut haruslah berjuang dan berkorban seperti seorang Ayah. Peran tersebut sangatlah sulit, seorang pria tidak dapat langsung menggantikan peran seorang ayah dan serta-merta menjadi seperti mereka sehingga berikan dia kesempatan dan izinkan dia untuk belajar dan membuktikannya disepanjang hidupnya.

Akhir kata, seperti paragraf kedua. Sudah saatnya aku untuk berdiam dalam ketidakmampuanku dan membiarkan Tuhan yang bekerja. Menjadi seorang ayah yang menunggu si bungsu untuk pulang. Ketika kau masih bisa membaca tulisan ini, pulanglah, aku siap menyambutmu.

Tumpah

Apa yang terjadi ketika sebuah gelas yang sudah penuh masih saja diisi air?

Tumpah.

Air dalam gelas itu atau air yang dimasukkan dalam gelas itu akan tumpah.

Apa yang terjadi, jika hati, pikiran dan perasaanku yang sudah penuh dengah hal-hal yang aku tidak pahami, kemudian banyak hal yang tidak aku pahami lainnya datang?

Tumpah.

Aku tumpahkan kepada alam, kepada pemilik kuasa yang tak terlihat. 

Aku yang egois ini memang jarang memberikan perhatian. Aku jarang memberikan kepedulian, tidak peduli,.

Ataukah,

Karena aku tidak memahami rasanya diperhatikan menjadikanku egois. Atau rasanya diperdulikan menjadikanku tidak peduli?

Aku tidak dapat bertahan dengan orang yang ingin diperhatikan tapi tidak mengajariku cara memperhatikan. 

Aku tidak dapat bertahan dengan orang yang ingin diperhatikan tapi lebih memilih diam seribu bahasa.

Aku adalah orang yang jarang menerima rasa perhatian, tetapi ingin memperhatikan. Ajar aku dan jangan berdiam.

Aku bukanlah orang yang peka karena aku tidak pernah merasakan kepekaan orang lain terhadapku.

Aku memilih untuk berjuang sendiri karena orang lain lebih sering mengacuhkanku dan bahkan menolehpun, tidak.

Aku sedih menjadi orang yang demikian. Aku masih berjuang akan hal tersebut.

Berjuang

Masih segar diingatanku beberapa bulan lalu aku menghapus Dota 2 dari steamku dan akhirnya tinggal menyisahkan game remeh – temeh kayak remah – remah roti, karena kuah – kuah ikan masih enak dan berasa. Selain menghemat sekitar 30an GB, game itu aku hapus agar aku tidak mempunyai kesempatan untuk mengklik play dan memainkannya. Terkadang ajakan dari teman – teman yang online memancing untuk bermain, walau memang lebih sering aku abaikan. Dan intinya Dota 2 dari steam sudah terhapus.

Hanya saja,

Waktu terus bergulir dan pemanfaatannya masih tetap kurang tertata. Adanya fasilitas internet di kostan membuat aku lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya,bersama youtube. Akhir – akhir ini memang youtube menjadi menarik karena banyak orang berbagi kehidupannya atau yang biasa disebut vlog (pilok), berbagi tutorial, berbagi eksperimen, berbagi video lucu dan menghibur, berbagi film singkat dan banyak hal lagi. Memang, aku sangat suka mendengarkan cerita dan berbagi cerita salah satunya seperti menulis kisah ini.

Tidak hanya itu, kedahsyatan film serial Game Of Throne Season 6 yang memiliki imdb hampir 10 membuat aku penasaran akan alur dari film ini. Dan akupun mencoba menontonnya dan akhirnya aku tidak dapat berhenti menontonnya. Dari awal aku tonton, yaitu mulai dari Season 1 hingga akhirnya aku menghentikannya diSeason 6 episode 3 atau 4. Film ini tiap seasonnya terdiri dari 10 episode dengan durasi waktu tiap episodenya sekitar 55-60 menit. Bayangkan berapa banyak waktu ku habiskan dalam penggunaan waktu yang kurang tepat ini (karena tidak ada yang sia-sia). Dan juga penggunaan kata atau kalimat dalam film ini sangat bagus, karakter dari tokoh yang sulit didikte dan kejutan – kejutan yang sering muncul.

Sore ini, aku gagal ke kampus karena keasyikan bermain game yang baru saja aku download kemarin malam dan game ini membuat aku tidur jam 3an. Game ini bergenre MMORPG yang merupakan genre game kesukaanku. Aku ingat dulu dengan game genre sejenis ini, banyak waktu dan uang (sewaktu SMA dan TPB) yang sudah aku habiskan. Laptop sering ditinggal tidur dengan kondisi game tetap bermain (auto play) untuk memaksimalkan perolehan exp dan berharap sudah naik level ketika bangun pagi harinya. Sering kali aku memaksakan diri untuk balik ke kostan di tengah – tengah pergantian kuliah hanya untuk memastikan laptop dan gamenya tidak DC.

Maka, sore ini aku menghapus semua game dan aku bertekat akan melakukan pembiaran dengan tidak mendownloadnya ulang ataupun mengaksesnya lewat PC. Tidak hanya itu, steam dan game remah – remah lainnya juga aku hapus.

Mengapa aku lakukan itu? Aku ingin melakukan yang terbaik untuk Tugas Akhirku. Hal ini memang tidak akan menjamin aku bisa mengejar wisuda oktober tetapi setidaknya aku tidak mengotori perjuanganku dalam menggapainya. Terkadang aku sangat malas mengerjakannya dan sangat bersemangat mengerjakannya. Aku sengaja menulis cerita ini disaat sebelum wisuda, karena ketika setelah wisuda (mungkin) cara penulisannya akan berbeda. Sesuatu yang susah menjadi gampang dan sebagainya.

Foto dibawah,
Kondisi folder game pada HP sebelum dan sesudah dilakukan penghapusan tadi sore.

30466

Foto dibawah,
Daftar pemakaian di lab mikropal, terlihat dalam 2 hari terakhir saat itu aku sangat bersemangat mengerjakan TA ku dan bahkan sendirian disana. Ada hal yang berkesan saat itu, saat seorang dosen bolak – balik lab itu sesekali memperhatikanku, kemudian menanyakan namaku dan dosbingku dan sedikit bertanya tentang TAku. Ini yang disebut ada kebahagiaan tersendiri ketika ditanya dosen nama kita dan juga ada kesedihan tersendiri juga ketika di kenal dosen dan nama kita ditandai dalam daftar hadir.

Biar sekalian, iya saat itu tingkat 2 atau 3 aku terlihat oleh dosen sedang berbicara dengan teman sebelah ketika dia sedang mengajar. Akhirnya dia menanyakan namaku dan terlihat menandainya pada daftar hadir. Dan dia memang menandainya. Semenjak itu aku jadi serius mendengarkan beliau mengajar dan berusaha belajar sebaik mungkin ketika menjelang ujian dengan asumsiku bahwa akan terjadi pengurangan nilaiku karena sikapku yang dulu jadi aku harus mendapatkan nilai sebaik mungkin di ujian. Demikian sekilas infonya.

1468245390207

Dalam mengerjakan TA ini, aku tidak sendiri. Ada banyak keluarga yang mendukungku, pertanyaan kapan wisuda dan sudah bab berapa sering ditanyakan padaku (bahkan tadi sore waktu video call dengan mamakku) dan syukurnya entah mengapa sampai sekarang aku tidak pernah terganggu dengan pertanyaan – pertanyaan sejenis itu. Mungkin karena aku merasa diperhatikan atau memang kami sama-sama berharap menyelesaikannya. Hal ini berbeda ketika aku menanyakan hal yang sama kepada teman – temanku padahal bisa dikatakan kami sama-sama teman seperjuangan.

Selain keluarga, aku juga didukung oleh teman – temanku. Semakin berjalan usia ini semakin sedikit teman yang kita punya dan semakin khusus pertemanan yang kita miliki, aku menyadari hal itu. Beginilah cara seorang temanku mendukungku, setiap kata – katanya terngiang dikepalaku hingga aku dapat mengulangi kalimatnya.

Semangat hari ini mateus. Semangat juga dalam TAmu. Sesulit apapun, sepanjang apapun, kerjakan dengan tekun ya. Ini Tugas Akhir, berikan yang terbaik dan usaha yang maksimal karena ini bagian dari pelayananmu.

Yeremia 17:8 (TB) Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Ketika kau mengandalkan Tuhan, kau akan bekerja bersama Tuhan karna Tuhan tidak akan pernah meninggalkanmu. Km akan seperti pohon yg ditanam di tepi air. Tetap hijau dan berbuah dengan indah meskipun teriknya matahari. Begitu juga dengan pekerjaanmu yang akan indah karena Tuhan bersamamu. Jangan khawatir dengan TA yang sulit. Ok
Maaf aku hanya bisa bantu doa. 😥 Atau ada hal yg bisa ku bantu?

Tuhan adalah Allah yang hidup dan mendengarkan doa. Doa adalah sesuatu hal yang besar. Doa yang kita sampaikan itu bukan untuk mengubah Tuhan atas kehendak-Nya akan tetapi sebuah proses untuk kita memahami dan masuk dalam kehendak-Nya. Aku sangat mengucap syukur ketika kamu mau mendoakan dan mendukungku. I Jesus You.

Brotherhood

Bandung, Mei 2016
Selanjutnya, tiga dari Gryphon kembali wisuda. Mereka orang-orang hebat yang berhasil mengalahkan dirinya sendiri dan akhirnya berbuah manis.
Kami merayakannya sebagai wujud sukacita kami. Kami juga mendoakan teman kami beserta keluarga dengan sebuah lagu. Momen ini juga mengingatkan saya akan perjuangan orangtua saya dan tidak sebanding dengan perjuangan saya di sini.
Brotherhood, adalah sebuah nilai yang ditanamkan kepada kami di Yasop. Sebagai seorang panitia inti sebuah kaderisasi, saya mengerti bahwa nilai,wujudnya abstrak, adalah hal yang sangat penting untuk ditanamkan karena nilai adalah pondasi. Dan ternyata tanpa sadar kami sudah merasakannya bahkan sebelum kami sweet seventeen dan kami akan selalu memilikinya dan sangat menikmatinya. Yasop tanpa brotherhood adalah hampa.
Semangat berjuang Gryphon.

Atas : Wisuda Ruth dan Friska Tengah : Wisuda Sumono Bawah : Lagu "doa" untuk teman dan keluarga kami
Atas : Wisuda Ruth dan Friska
Tengah : Wisuda Sumono
Bawah : Lagu “doa” untuk teman dan keluarga kami

Kisah tersebut ditulis dengan perasaan, tulisan yang ditulis dengan perasaan maka pesannya akan langsung dapat menyentuh perasaan pembacanya. Sepertinya salah satu pamong (orang yang berdedikasi dan berhati mulia) asrama dapat memahaminya, tak lama setelah itu fanspage asrama mengutip dan mengeposnya.

Kutipan dari Fanspage Asrama
Kutipan dari Fanspage Asrama

Jika kamu membaca semua kisah dalam blog saya, kamu dapat membedakan ada kisah yang ditulis dengan perasaan dan ada yang tidak. Tulisan yang ditulis dengan perasaan bertujuan untuk menyampaikan perasaan.
Menyampaikan perasaan? Apakah hal itu sebuah hal yang penting?
Apakah menyampaikan perasaan itu memiliki batasan? Batasan seperti batas usia, warna kulit, kedewasaan, posisi, jenis kelamin dan bahkan keterbatasan?
Kepada siapakah kita harus bersedih? Kepada orang yang tidak dapat menyampaikan perasaannya atau kepada orang yang belum dapat mendengar perasaan orang lain?

Kagumku

Pergilah dan nikmatilah,
Rasakan ketika pagi berganti siang,
Rasakan ketika segarnya aroma pagi berganti garangnya aroma siang
Rasakan ketika sang surya mulai membelai lembut dan kemudian menggarut.

Kemudian,
Rasakan ketika dia mulai tersipu malu,
Jangan palingkan wajahmu tetapi terus tataplah dia.
Rasakan ketika dia kembali membelaimu lembut,
Tak hanya itu, dia mulai meniupmu dengan manja.

Kemudian,
Pandanglah ke langit,
Dia akan tersenyum melihatmu, jangan terpaku, tetapi balas, tersenyumlah.
Bukankah tak ada lagi cahaya lain selain dari padanya.

Oh iya, sesekali dia akan menangis. Tidak melulu tentang kesedihan, jangan lupa ada kebahagiaan. Jangan kabur, pandanglah dia dan peluklah, rasakan setiap tetes demi tetes airmatanya membasahimu.

Dan kamu, sesekali kamu juga akan menangis, karena dia tersakiti.
Jangan khawatir, jujurlah bukan berlapang dada. Karena kedua hal tersebut berbeda. Kamu harus memahaminya.

Kebun tebu

“Kebahagiaan – kebahagiaan kecil”

Melalui tulisan Beliau, saya mengetahui istilah “kebahagiaan – kebahagiaan kecil” ini dan Beliau memberikan contoh mengenai kebahagiaan datangnya hujan lebat dipagi hari bagi siswa-siswi asrama Yasop.
Saya mebayangkan saat menjadi siswa, ketika hujan lebat datang maka tidak akan ada olahraga pagi, lari pagi, push up, sit up, jumping jacks akan tetapi yang ada adalah waktu mencuci hingga waktu curi-curi tidur yang lebih banyak. Atau juga tidak harus bangun 04.45.
Namun, hujan dipagi hari sering atau selalu diabaikan oleh orang lain bahkan sekarang saya sendiri (objek yang sama) ketika menjadi mahasiswa. Hal ini sudah cukup menjelaskan.

Day 28,
Melalui peta kontur dan GPS saya mengetahui ditempat ini tidak ada yang ketinggiannya melebihi 100meter, artinya daerah ini dataran rendah dan menjadikannya sangat panas.
Saya teringat perjalanan hari ini juga cuaca cerah dan panas dan dihari sabtu kami khususkan untuk survei air (mengecek air pompa dan sumur warga). Sehingga mau tidak mau kami harus mengunjungi puluhan rumah warga, senyum sana – sini, menanggung-angguk bukan tanda setuju tetapi menyapa.

Dan, kebahagian – kebahagiaan kecil hari ini adalah ketika dilapangan ada sampai tiga keluarga memberikan kami minuman. Pertama, saat matahari tepat diatas kepala, seorang ibu memberikan 2 botol aqua, kemudian beberapa jam setelahnya seorang ibu memberikan 2 mizone DINGIN yang menjadi penambah nikmat makan dilapangan sambil menatap perbukitan antiklin, dan setelahnya lagi seorang bapak memberikan sebotol aqua (padahal rumah bapak ini tidak dapat dijangkau oleh air bersih sehingga dia harus membeli 10 galon setiap harinya).

Sekitar dua hari lalu juga, ketika sedang beristirahat siang, seorang bapak memberikan banyak buah menungo atau buah srikaya yang untuk pertama kali saya merasakannya setelah hampir sebulan dalam penasaran saat berada di tempat ini. Ada juga seorang ibu yang memberikan teh dingin dan kami bercerita mengenai air pompanya yang bisa langsung diminum tanpa dimasak dan katanya itu membuat badan mereka gemuk-gemuk, HAHAHA, juga minuman dingin lainnya disaat pengecekan sumur dan minuman dingin lainnya serta pemandangan malam dari lantai 3 beranda rumah seorang bapak yang hampir memiliki seblok rumah dalam sebuah perumahan.

Apalah arti itu semua?
Hanya sekadar minuman dingin, dan ada ratusan kaleng dan puluhan jenis diIndomaret atau alfamart atau dikulkasmu saat ini.
Iya benar, tapi kembali lagi ini cerita mengenai kebahagiaan – kebahagiaan kecil. Minuman itu berasal dari orang – orang yang tidak mengenalku. Padahal harusnya melihat mukaku saja mungkin mereka bisa takut atau seperti pihak maskapai yang sering meletakkanku dipintu darurat atau satpam BEC bahkan harus mendekatkan metal detectornya ketubuhku.
Kebahagiaan kecil yang berasal dari orang – orang yang tidak mengenalku, bahkan suku dan agamaku.
Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan saat melakukan hal itu, tetapi aku tahu pasti sesuatu yang lebih besar pasti mengarahkannya.

Minuman dingin disaat harusnya kamu tidak bisa menikmatinya dan buah disaat rasa penasaranmu yang hampir sebulan menjadi penyejuk dipanasnya tempat ini yang bahkan melebihi suhu dilaporan BMKG soal Ancaman Panas Ekstrem pada 21 Maret nanti.

Ini bukan cerita mengenai momen yang tepat akan tetapi ini cerita mengenai kebahagiaan – kebahagiaan kecil yang membuat hati bahkan bisa tersenyum.

Mateus,
manusia bodoh.

 

Sedikit kebahagiaan kecil kami :

Sentuhan Pertama di Mojokerto dan Wringinanom

20.56 kami tiba di stasiun Mojokerto, hanya satu menit telat dari jadwal yang tertera pada tiket. Luar biasa. Kemudian kami mengambil motor pada gudang stasiun yang sebelumnya sudah kami kirim dari Bandung dan kemudian kami berangkat untuk mengisi bensin dan makan malam. Karena sudah malam, kami ingin mencari tempat menginap sementara hanya untuk melewati malam itu dan berencana besoknya baru berangkat ke daerah penelitian. Kami search “gereja di mojokerto” dan ternyata ada banyak. Rencana kami adalah untuk menumpang menginap di rumah sekitar gereja seperti rumah pendeta atau penjaga gereja. Akan tetapi setelah mengunjungi tiga gereja, ketiga gereja terlihat sunyi dan gerbang digembok. Hal ini sama dengan dua masjid dan sebuah mushola yang kami temui. Mungkin karena sudah terlalu malam. Hal yang menyenangkan adalah kami sekalian keliling – keliling kota, melihat kantor bupati dan alun – alun.

Semakin malam, kami mendatangi sebuah kantor polisi (polantas) yang cukup besar, sayangnya tidak ada tempat juga di sana untuk menginap. Kami juga menanyakan ke kantor pos dan bahkan berniat menanyakan ke kimia farma. Hahaha.

Malam semakin larut, kami menelpon kantor jasa pengiriman motor yang tadi, apakah kami bisa menginap digudangnya. Akan tetapi tidak boleh karena dilarang oleh petugas stasiun di sana. Dan dia menyarankan untuk menginap di tempat duduk depan stasiun dan kami mengecek tempat itu dan ternyata sangat sunyi dan cukup rawan.

Akhirnya kami mencari SPBU yang cukup besar yang mempunyai mushola dan akhirnya menginap di sana. Barang- barang kami tumpuk dengan kaki kami di atasnya dan berharap semua barang aman besok paginya.

Bangun pagi semua barang aman, dan kami cuci muka dan berangkat mencari gereja. Dari beberapa gereja yang kami temui ternyata jam ibadahnya adalah 07.00 dan saat itu sudah lewat sejam. Akhirnya kami putuskan untuk gereja sore jam 17.00 dan langsung berangkat ke daerah penelitian kami. Pada saat itu, daerah kota Mojokerto sangat ramai karena lagi ada pertunjukan barongsai.

Singkat cerita, kami mulai mempergunakan peta dan gps untuk mencari daerah yang sesuai dengan kotak (daerah penelitian) kami. Bagian yang tersulit dan termudah adalah mencari kepala desanya karena kami tidak tahu tempatnya akan tetapi bertemu secara tidak sengaja. Hahaha.

Pak kepada desa memberi kami masing – masing segelas aqua dan membawa kami ke balai desa. Di sana secara tidak sengaja ada Pak Salamun yang sebagai kepala lurah. Bapak tersebut membawa kami ke sebuah rumah yang biasa dipakai oleh mahasiswa KKN. Tetapi ternyata rumah tersebut terlalu besar untuk kami dan akhirnya kami dibawa kembali ke balai desa.
Singkat cerita lagi, kami jadinya ditawari menginap di sebuah ruangan yang sebelahan dengan kantor kepala desa. Kata Bapaknya tidak perlu dibayar. Dan kami pun memutuskan tinggal di sana beberapa waktu ini. Pak Lurah membantu kami membersikan ruangan tersebut dan beliau juga membawakan alas tidur untuk kami. Dan untuk bantal, kami mengambilnya dari bantal sofa ruangan Bapak Kepala Desa.

Sore sekitar jam 16.10 kami berangkat ke Mojokerto dan beribadah pada sebuah gereja yang berjarak 20 km dari basecamp kami. Karena beribadah sore, pulangnya kami harus melewati jalan desa yang cukup panjang dan gelap karena belum ada lampu jalan disana. Kami pun tiba di balai desa dan ternyata sudah ada Pak Lurah yang sudah beberapa saat mencari – cari kami. Kami bercerita – cerita cukup panjang dan ternyata di sini cukup kesulitan air bersih. Sebelumnya dia juga membawakan penutup jendela untuk kamar kami.

Sekian akhir hari ini. Semakin hari semakin banyak pertanyaan terjawab.

 

Foto : Kiri atas adalah bagian depan dari kamar kami yaitu halaman dari Balai Desa, Kanan atas adalah bagian dalam dari kamar kami, Bawah adalah suasana jalanan Mojokerto pada saat kebetulan ada barongsai. (Foto diambil pada tanggal 21-02-2016, hari kedua kami di Jawa Timur